Belajar BUKANLAH Menghafal dan Menghafal BUKANLAH Belajar
Kemaren dapat inspirasi dari siaran radio, seorang praktisi pendidik mengatakan bahwa Belajar BUKANLAH Menghafal , dan Menghafal BUKANLAH Belajar .Belajar harus dimulai dari ketertarikan dan keingintahuan. Tanpa ketertarikan maka janganlah anda belajar. Bahan bakar belajar adalah ketertarikan, dorongan untuk membesarkan api adalah kompetisi dan hasilnya adalah masakan yang lezat berupa kepandaian.
Pada suatu ketika ada orang yang bertanya pada Albert Einstein, "Hei Einstein, berapakah kecepatan cahaya itu ?". Kemudian dijawab oleh Einstein, "Maaf, silakan anda lihat saja di buku saya, saya tidak hafal. Saya lebih suka menggunakan otak saya untuk berfikir daripada menghafal seperti itu."
Tapi sayangnya, kurikulum pendidikan di Indonesia lebih banyak menggunakan metode menghafal daripada membuat para siswa berfikir. Contohnya ketika kita menghadapi ujian, semalam suntuk kita menghafal materi yang akan diujikan agar dapat mengerjakan ujian dengan lancar. Setelah ujian selesai, maka semua materi yang kita hafal tersebut sudah hilang dari ingatan !
Namun ketika kita berfikir, maka buah pemikiran kita tersebut pasti akan melekat di otak kita, kalaupun kita tidak ingat hasilnya, tapi kita masih bisa berfikir lagi untuk mencetuskannya kembali.
Kita tidak akan pernah bisa menciptakan teori-teori baru, jika dengan cara menghafal teori-teori yang telah ada.
Semoga kita dapat merubah mainset anak-anak kita tentang metode belajar yang benar.
Bahwa Belajar BUKANLAH Menghafal dan Menghafal BUKANLAH Belajar .
2 komentar:
Abdillah Kamal says
Dedy Tolong Bantu aq ya...